Mengenang 25 Tahun Peristiwa Mei 1998
(gambar: BBC Indonesia)
Tragedi penjarahan, perkosaan, kerusuhan, insiden Trisakti, pendudukan gedung DPR/MPR hingga mundurnya Presiden Soeharto.
Krisis Finansial Asian tahun 1997-1999 mengakibatkan kemerosotan ekonomi hingga memicu serangkaian aksi demonstrasi di sejumlah wilayah Indonesia. Utang luar negeripun terus meningkat sedangkan bantuan IMF (International Monetary Fund) justru semakin memperburuk ekonomi Indonesia.
4 Mei
Pemerintah menaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dan TDL (Tarif Dasar Listrik).
5-9 Mei
Aksi unjuk rasa oleh gabungan mahasiswa Yogyakarta di gedung DPRD Yogyakarta mengakibatkan penangkapan 29 mahasiswa dan berujung pada tewasnya Moses Gatotkaca mahasiswa Sanata Dharma.
9 Mei
Presiden Soeharto melakukan kunjungan ke Mesir selama sepekan untuk menghadiri KTT G-15 Kairo, Mesir.
12 Mei
Sejumlah mahasiswa Universitas Trisakti melakukan aksi unjuk rasa di gedung DPR/MPR. Unjuk rasa ini mengakibatkan empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak senjata api.
13 Mei
Unjuk rasa kembali terjadi namun bukan hanya dari mahasiswa Universitas Trisakti tapi juga dari berbagai kelompok gerakan mahasiswa lainnya.
14 Mei
Aksi unjuk rasa yang menuntut reformasi sudah menyebar di berbagai kota besar di Indonesia.
Aksi unjuk rasa ini berujung pada kerusuhan dengan aparat hingga mengakibatkan pengerusakan, penjarahan dan pemerkosaan di Medan, Surabaya dan Jakarta dan tidak hanya masyarakat keturunan Tionghoa yang mengalami akibat dari kerusuhan tersebut masyarakat "pribumi" pun turut mengalami dampak dari akibat kerusuhan tersebut.
15 Mei
Presiden Soeharto kembali dari kunjungannya ke Mesir dan melalui Mentri Penerangan Alwi Dahlan Presiden Soeharto menyatkan tidak akan mundur dari jabatan Presiden Indonesia.
18 Mei
Ribuan memadati pelataran gedung DPR/MPR dengan mendesak agar MPR melakukan sidang istimewa secepatnya.
19 Mei
Gerakan gabungan mahasiswa dan masyarakat sipil sudah "menduduki" gedung DPR/MPR.
Presiden Soeharto mengadakan pertemuan daan berdialog dengan tokoh-tokoh nasional seperti Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Emha Ainun Nadjib, KH Alie Yafie, Malik Fajar, Soemarsono, KH Cholil Baidowi, Ahmad Bagja, dan KH Ma’ruf Amien. Dari hasil dialog tersebut Presiden Soeharto menyatakan tidak akan mundur dari kursi kepresidenan sampai pemilu berikutnya dan akan mengadakan pemilu secepatnya.
20 Mei
Aksi gabungan dari mahasiswa dan masyarakat sipil masih menduduki gedung DPR/MPR dan mendesak Presiden Soeharto mundur dari jabatan Presiden Indonesia.
21 Mei
Pukul 09:00 WIB, Presiden Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia dan mengalihkan jabatan Presiden Republik Indonesia kepada BJ Habibie.
Krisis Moneter yang terjadi di Indonesia dimanfaatkan oleh beberapa jendral dengan mengambing hitamkan masyarakat keturunan Tionghoa sebagai penyebab krisis moneter dengan menyebarkan informasi palsu bahwa masyarakat keturunan Tionghoa akan membawa uang rakyat ke luar negeri dan telah menimbun sembako hingga menyebabkan masyarakat Indonesia kelaparan. Sentimen anti-Tionghoa yang telah berlangsung sejak lama membuat aksi penjarahan hingga pemerkosaan terjadi.
25 tahun reformasi Indonesia menyimpan tragedi pelanggaran HAM.
sumber :
Kasenda, Peter. 2015. Hari-Hari Terakhir Orde Baru. Depok: Komunitas Bambu.
https://www.
https://kompaspedia.kompas.id/
https://kompaspedia.kompas.id/
https://nasional.tempo.co/amp/
BalasTeruskan |
Label: Penerangan

